Sabtu, 21 April 2018

Soal E-Commerce, Timses Akui Arinal Terlihat Bodoh


BANDAR LAMPUNG – Tidak disangka Calon Gubernur Arinal Djunaidi sangat terlihat tidak siap dalam debat calon gubernur Lampung 2018 yang diadakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung Sabtu (7/4) malam. Padahal sebelumnya dalam berbagai kampanye Arinal Djunaidi terlihat meyakinkan menyampaikan program-programnya. Namun malam itu Arinal Djunaidi menjadi bahan tertawaan penonton debat. Bahkan sampai hari ini ramai dimedia sosial menggunjing kebodohannya dalam menjawab beberapa pertanyaan saat debat kandidat. 

Padahal dalam seminggu terakhir lembaga konsultan politik bayaran, Cyrus Network sudah mempersiapkan Arinal untuk menghadapi debat kandidat. Bahkan pada Jumat (6/4) malam seharian sampai pukul 03.00 pagi, Cyrus Network yang dipimpin Hasan Nasbi didampingi koleganya Bagus dan Melisa, SH dilaporkan terus bersama Arinal di rumahnya di Way Halim. 

“Tidak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi yang kita lihat hasilnya pak Arinal seperti itu,” demikian lapor Khadijjah, salah seorang tim sukses Arinal-Nunik kepada pers.
Menurutnya, semua pertanyaan tertuju pada Arinal sebenarnya bisa dijawab oleh Arinal Djunaidi. Sebagai lembaga konsultan politik nasional seharusnya Cyrus Network bisa mempersiapkan calon gubernurnya.

“Ini koq sepertinya tidak ada persiapan. Sehingga pak Arinal terlihat bodoh. Seperti digembosi gitu. Kalau benar berarti Cyrus Network sukses gembosi calon gubernur Arinal,” katanya lagi.
Cyrus Network sendiri sebenarnya sudah beberapa kali merugikan pasangan calon Arinal-Junaidi. Dari laporan media yang meliput Pilkada Lampung bisa ditelusuri. Kebocoran pembagian susu yang dikoordinasikan oleh Cyrus Network pada rakyat sebelum masa kampanye sempat memalukan pasangan Arinal Nunik.

Setelah itu kasus pembagian Kartu Tani Berjaya juga bocor di masyarakat dan dilaporkan ke Bawaslu. Pembagian kartu tani itupun dibawah koordinasi Cyrus Network.
Yang paling parah adalah saat debat kandidat. Dibawah arahan Cyrus Network, Arinal justru seperti tidak berdaya menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam debat kandidat.

“Dari beberapa kasus ini bisa dilihat upaya sistimatis bukannya untuk mendukung pasangan calon No 3, Arinal-Nunik, tapi justru menggembosi dan merusak pasangan kami,” katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, tadinya Lembaga konsultan yang dipercaya oleh Arinal dan Nunik adalah lembaga Polmark pimpinan Eep Syaifulloh Fatah yang selama ini sudah bekerjasama dengan berbagai partai pengusung dibawah kepemimpinan Tim Pemenangan yang resmi terdaftar di KPU Lampung.

“Anehnya, koq dalam beberapa hari belakangan justru pak Arinal lebih dekat dengan kelompok Cyrus Network sampai kejadian di debat kandidat itu,” ujarnya.


*Anak Nakal Dan Singkong Goreng*
Dalam debat kandidat, moderator mengajukan dengan cepat padanan kata tertentu yang harus dijawab dengan kata kunci yang berkaitan dengan visi misi perjuangan kandidat.
Ketika ditanya dengan kata ‘singkong’, setelah bengong beberapa saat Arinal menjawab dengan kata ‘goreng’ yang disambut gelak tertawaan para hadirin di ruang debat di Novotel Bandar Lampung.
Ketika ditanya ‘anak jalanan’, Arinal menyambut dengan kata ‘nakal’ yang lagi-lagi mengundang tertawaan membahana ruangan debat tersebut.
Saat moderator menanyakan ‘E-Commerce’, Arinal planga-plongo tidak mengerti harus menjawab apa. Demikian juga ketika ditanya ‘Eco Wisata’ Arinal akhirnya menyerah. Semua kejadian diatas secara langsung disiarkan dan  menjadi bahan banyolan politik di berbagai media sosial sampai hari ini.
“Kami gak nyangka Arinal bisa sebego itu. Diapain sama Cyrus dia semalam di rumahnya sampai pagi,” demikian Khadijjah menyesali. Menurutnya semua relawan dan partai partai pendukung Arinal-Nunik sungguh terpukul dengan peristiwa dalam debat kandidat tersebut.
*Asal Usul Cyrus Network*
Cyrus Network dibawah kepemimpinan Hasan Nasbi adalah pecahan dari Lembaga Konsultan Cyrus yang dipimpin oleh Andrianov Chaniago. Cyrus Network dibawah Hasan Nasbi pernah terlibat dalam kampanye mendukung Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada DKI Jakarta tahun lalu.
“Sebenanya dari Jakarta sudah pernah bermasalah. Sehingga partai-partai pendukung Ahok menyingkirkan lembaga ini. Datanya tidak pernah akurat dan tidak ada pertanggung jawaban penggunaan dana Rp 35 Miliar yang habis percuma,” demikian Deborah, salah satu Ahoker ketika dihubungi di Jakarta.
Menurutnya kerja Cyrus Network selama ini hanya mengklaim kerja-kerja relawan pendukung Ahok yang lainnya. Sehingga membuat kelompok-kelompok yang bekerja banyak komplain terhadap cara kerja Cyrus Network.
“Kerjaan orang diklaim. Ngomongnya besar. Laporannya di atas kertas indah semua. Tapi kenyataan tidak ada. Semua itu tujuannya adalah mengeruk dana dari paslon atau menjual nama paslon ke donatur. Akibatnya Ahok kalau dibuat Cyrus Network” kenang Deborah. (*)



SHARE THIS

Author:

0 komentar: