Selasa, 27 Februari 2018

Banjir di Lampung Ditengarai Karena Kerusakan Hutan

ilustrasi banjir
Bandarlampung -Kerusakan hutan dan ruang terbuka hijau (RTH) disinyalir menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di sejumlah kabupaten se-Provinsi Lampung.
"Pemerintah provinsi abaikan pentingnya menjaga hutan, sehingga dampak paling nyata di saat memasuki musim penghujan menyebabkan musibah banjit," kata Ahmad warga  Kampung Banjarratu, Lampung Tengah.

Menurut dia, semestinya pemerintah dapat mengantisipasi musibah tersebut. "Jangan hanya infrastruktur jalan melulu, tapi juga jaga keseimbangan ekosistem alam. Baik sungai ataupun hutan," kata Ahmad.

Akibatnya, ia menambahkan, musibah yang terjadi di Lampung Tengah serta beberapa daerah lainnya menimbulkan kerugian yang sangat signifikan terhadap masyarakat.
Selain merendam puluhan rumah, banjir juga menghanyutkan satu unit sepeda motor, satu ton ikan budi daya milik warga serta merendam lima hektare sawah.

Direktur Walhi  Lampung Hendrawan mengatakan banjir yang terjadi hari ini merupakan salah satu akibat dari kerusakan hutan yang semakin nyata, bila sudah seperti ini pemerintah seakan mengabaikannya.
"Pemprov Lampung telah abaik dalam beberapa tahun terakhir dalam menjaga lingkungan, khususnya hutan yang ada di wilayah ini," ungkapnya.

Seharusnya bencana ini bisa diantisipasi dengan menjaga lingkungan, pemerintah harus sudah mulai melakukan revitalisasi.
"Wilayah hulu dan hilir di Sungai Way Sekampung, seharusnya sudah dilakukan revitalisasi karena jika tidak dibenahi tentunya banjir akan lama surut," kata dia.
Apabila pemerintah telah melakukan perbaikan, seharusnya lebih dahulu dilakukan penghijauan baru dibenahi sungainya.
Sejumlah kabupaten yakni Lampung Selatan, Metro, Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Waykanan mengalami ketinggian air antara 30 cm hingga 2 meter.
Terdapat lima korban jiwa dan dua lainnya hilang akibat musibah itu. Ratusan kepala keluarga mengungsi dan kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Sebab utamanya karena tingginya curah hujan yang mengakibatkan beberapa sungai yang melintas di empat kabupaten itu meluap dan menggenangi wilayah sekitarnya.

Di Lampung Selatan misalnya terdapat, 64 rumah pada tiga dusun di Desa  Sidoharjo, Kecamatan Waypanji, terendam akibat tanggul jebol. Air menggenangi puluhan rumah di wilayah tersebut dengan ketinggian 30 cm hingga 60 cm.
Luapan air dari Sungai Panji itu mulai terjadi pada Senin (26/2) sekitar pukul ?03.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB. Dusun Solo dan Kediri tergenang banjir dengan ketinggian 60 centimeter, sedangkan di Dusun Bandung, air mencapai 50 centimeter.
Musibah serupa terjadi juga di Lampung Timur, sebanyak dua kecamatan yakni Sukadana dan Bumiagung tergenang air antara satu meter – dua meter. Bahkan, transportasi lumpuh akibat beberapa ruas jalan tak bisa dilalui.(red)



SHARE THIS

Author:

0 komentar: