Jumat, 25 Mei 2018

Jejak Kontroversi Arinal Djunaidi

Jejak Kontroversi Arinal Djunaidi





Bandar Lampung-Dalam sepekan terakhir Arinal Djunaidi ramai diberitakan. Sayangnya, nama Sekretaris Provinsi Lampung tersebut “wara wiri” di berbagai media massa Bumi Ruwa Jurai bukan untuk hal positif atau good news.
Adalah dua tindakan “sumbang” Arinal yang kemudian membuatnya diberitakan dengan tone negatif alias bad news. Pertama, dia diduga memukul pegawai Garuda Indonesia di Bandara Radin Inten II pada Sabtu, 16/4/2016. Dan kedua, mantan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung tersebut memarahi wartawan saat dikonfirmasi dugaan pemukulan tersebut. Buntutnya, para wartawan yang merasa profesinya dilecehklan kemudian mendemo Arinal pada Rabu, 20/4/206.

Berikut jejak kontroversi Arinal Djunaidi dalam sepekan terakhir yang dirangkum duajurai.com dari berbagai pemberitaan.
·         Sabtu pagi, 16/4/2016
Arinal Djunaidi diduga melakukan pemukulan terhadap pegawai Garuda Indonesia di Bandara Radin Inten II, Branti, Natar, Lampung Selatan. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10 WIB.
Kejadian bermula ketika pejabat karier dengan pangkat tertinggi di lingkungan Pemprov Lampung tersebut melakukan check in di bandara untuk melakukan penerbangan dengan pesawat Garuda Indonesia tujuan Jakarta. Arinal yang check in menggunakan jalur khusus terlibat cekcok mulut dengan Istahul Umam, petugas tiketing Garuda. Diduga berang karena ditanya identitasnya, AJ disebutkan memukul Istahul.
·         Sabtu siang, pukul 14 WIB
Istahul Umam melapor ke Kepolisian Sektor Natar, Lampung Selatan, atas tindakan pemukulan yang dilakukan Arinal kepadanya. Pegawai Garuda Indonesia itu juga melakukan visum ke Rumah Sakit Medika Natar.
·         Sabtu petang-malam
Sejumlah media online memberitakan dugaan tindak penganiayaan tersebut. Beberapa media online menulis nama Arinal dengan inisial “A” atau “AJ”. Berita tersebut menyebar luas melalui pesan berantai BlackBerry messenger dan media sosial.
Sepanjang Sabtu hingga Minggu kasus tersebut ramai diperbincangkan di media sosial. Umumnya, para netizen menyesalkan tindakan Arinal yang dianggap arogan.
·         Minggu pagi, 17/4/2016
Berita yang sama muncul di beberapa media cetak/koran.
·         Senin siang, 18/4/2016
Arinal yang ditemui wartawan menolak memberikan tanggapan tentang dugaan penganiayaan yang dilakukannya terhadap pegawai Garuda Indonesia. Dia bahkan tampak emosi dan menuding wartawan membuat berita cuma untuk mencari duit. Ia menyayangkan pemberitaan yang sudah beredar luas namun tanpa mendapat konfirmasi dari dirinya.
“Kalian itu buat berita tidak ada krosceknya. Yang penting asal gempar dunia ini. Janganlah, itu ada pertanggungjawabannya di akhirat,” katanya dengan nada tinggi kepada awak media.
·         Senin sore
Istahul Umam mencabut laporan terhadap Arinal Djunaidi di Polsek Natar. Kepada duajurai.com,Kapolsek Natar Komisaris Listiyono Dwi Nugroho, menyatakan kasus dugaan pemukulan Istahul oleh Arinal sudah selesai. Menurutnya, kasus tersebut termasuk kategori perkara ringan yang penyelesaiannya bisa melalui perdamaian antara kedua belah pihak.
“Sudah dilakukan perdamaian antara kedua belah pihak. Lagipula laporannya sudah dicabut. Untuk apa lagi kasusnya diteruskan,” ujar Listoyono.
·         Senin petang
LBH Bandar Lampung mengeluarkan rilis dan mengirimkannnya kepada sejumlah media. LBH meminta kepolisian tidak ragu untuk mengusut dugaan pemukulan karyawan Garuda Indonesia oleh AJ. Kepala Divisi Ekosob LBH Bandar Lampung Chandra Bangkit Saputra menegaskan, perbuatan AJ merupakan tindak pidana penganiayaan dan pelanggaran hak asasi manusia.
Tindak pidana penganiayaan, kata Chandra, bukanlah merupakan delik aduan dan tidak ada aturan hukum yang mengatur untuk pencabutan laporan di kepolisian
“LBH Bandar Lampung mengingatkan pihak kepolisian jangan takut untuk mengungkap perkara ini walaupun terlapor adalah seorang pejabat Provinsi Lampung,” tandas Chandra.(*

Sabtu, 21 April 2018

Soal E-Commerce, Timses Akui Arinal Terlihat Bodoh

Soal E-Commerce, Timses Akui Arinal Terlihat Bodoh


BANDAR LAMPUNG – Tidak disangka Calon Gubernur Arinal Djunaidi sangat terlihat tidak siap dalam debat calon gubernur Lampung 2018 yang diadakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung Sabtu (7/4) malam. Padahal sebelumnya dalam berbagai kampanye Arinal Djunaidi terlihat meyakinkan menyampaikan program-programnya. Namun malam itu Arinal Djunaidi menjadi bahan tertawaan penonton debat. Bahkan sampai hari ini ramai dimedia sosial menggunjing kebodohannya dalam menjawab beberapa pertanyaan saat debat kandidat. 

Padahal dalam seminggu terakhir lembaga konsultan politik bayaran, Cyrus Network sudah mempersiapkan Arinal untuk menghadapi debat kandidat. Bahkan pada Jumat (6/4) malam seharian sampai pukul 03.00 pagi, Cyrus Network yang dipimpin Hasan Nasbi didampingi koleganya Bagus dan Melisa, SH dilaporkan terus bersama Arinal di rumahnya di Way Halim. 

“Tidak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi yang kita lihat hasilnya pak Arinal seperti itu,” demikian lapor Khadijjah, salah seorang tim sukses Arinal-Nunik kepada pers.
Menurutnya, semua pertanyaan tertuju pada Arinal sebenarnya bisa dijawab oleh Arinal Djunaidi. Sebagai lembaga konsultan politik nasional seharusnya Cyrus Network bisa mempersiapkan calon gubernurnya.

“Ini koq sepertinya tidak ada persiapan. Sehingga pak Arinal terlihat bodoh. Seperti digembosi gitu. Kalau benar berarti Cyrus Network sukses gembosi calon gubernur Arinal,” katanya lagi.
Cyrus Network sendiri sebenarnya sudah beberapa kali merugikan pasangan calon Arinal-Junaidi. Dari laporan media yang meliput Pilkada Lampung bisa ditelusuri. Kebocoran pembagian susu yang dikoordinasikan oleh Cyrus Network pada rakyat sebelum masa kampanye sempat memalukan pasangan Arinal Nunik.

Setelah itu kasus pembagian Kartu Tani Berjaya juga bocor di masyarakat dan dilaporkan ke Bawaslu. Pembagian kartu tani itupun dibawah koordinasi Cyrus Network.
Yang paling parah adalah saat debat kandidat. Dibawah arahan Cyrus Network, Arinal justru seperti tidak berdaya menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam debat kandidat.

“Dari beberapa kasus ini bisa dilihat upaya sistimatis bukannya untuk mendukung pasangan calon No 3, Arinal-Nunik, tapi justru menggembosi dan merusak pasangan kami,” katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, tadinya Lembaga konsultan yang dipercaya oleh Arinal dan Nunik adalah lembaga Polmark pimpinan Eep Syaifulloh Fatah yang selama ini sudah bekerjasama dengan berbagai partai pengusung dibawah kepemimpinan Tim Pemenangan yang resmi terdaftar di KPU Lampung.

“Anehnya, koq dalam beberapa hari belakangan justru pak Arinal lebih dekat dengan kelompok Cyrus Network sampai kejadian di debat kandidat itu,” ujarnya.


*Anak Nakal Dan Singkong Goreng*
Dalam debat kandidat, moderator mengajukan dengan cepat padanan kata tertentu yang harus dijawab dengan kata kunci yang berkaitan dengan visi misi perjuangan kandidat.
Ketika ditanya dengan kata ‘singkong’, setelah bengong beberapa saat Arinal menjawab dengan kata ‘goreng’ yang disambut gelak tertawaan para hadirin di ruang debat di Novotel Bandar Lampung.
Ketika ditanya ‘anak jalanan’, Arinal menyambut dengan kata ‘nakal’ yang lagi-lagi mengundang tertawaan membahana ruangan debat tersebut.
Saat moderator menanyakan ‘E-Commerce’, Arinal planga-plongo tidak mengerti harus menjawab apa. Demikian juga ketika ditanya ‘Eco Wisata’ Arinal akhirnya menyerah. Semua kejadian diatas secara langsung disiarkan dan  menjadi bahan banyolan politik di berbagai media sosial sampai hari ini.
“Kami gak nyangka Arinal bisa sebego itu. Diapain sama Cyrus dia semalam di rumahnya sampai pagi,” demikian Khadijjah menyesali. Menurutnya semua relawan dan partai partai pendukung Arinal-Nunik sungguh terpukul dengan peristiwa dalam debat kandidat tersebut.
*Asal Usul Cyrus Network*
Cyrus Network dibawah kepemimpinan Hasan Nasbi adalah pecahan dari Lembaga Konsultan Cyrus yang dipimpin oleh Andrianov Chaniago. Cyrus Network dibawah Hasan Nasbi pernah terlibat dalam kampanye mendukung Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada DKI Jakarta tahun lalu.
“Sebenanya dari Jakarta sudah pernah bermasalah. Sehingga partai-partai pendukung Ahok menyingkirkan lembaga ini. Datanya tidak pernah akurat dan tidak ada pertanggung jawaban penggunaan dana Rp 35 Miliar yang habis percuma,” demikian Deborah, salah satu Ahoker ketika dihubungi di Jakarta.
Menurutnya kerja Cyrus Network selama ini hanya mengklaim kerja-kerja relawan pendukung Ahok yang lainnya. Sehingga membuat kelompok-kelompok yang bekerja banyak komplain terhadap cara kerja Cyrus Network.
“Kerjaan orang diklaim. Ngomongnya besar. Laporannya di atas kertas indah semua. Tapi kenyataan tidak ada. Semua itu tujuannya adalah mengeruk dana dari paslon atau menjual nama paslon ke donatur. Akibatnya Ahok kalau dibuat Cyrus Network” kenang Deborah. (*)